Besuk, (11/05/2026) – Semangat menjaga kemurnian Al-Qur'an dan memperkuat ukhuwah Islamiyah menyelimuti Rapat Kerja PAC JQH-NU Kecamatan Besuk. Kegiatan yang mengusung tema "Merajut Nada, Mengikat Ukhuwah, Menjaga Kalamullah" ini dilaksanakan pada Ahad malam, 10 Mei 2026, bertempat di TPQ Al-Huda, Kecamatan Besuk, mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB.
Hadir dalam forum tersebut jajaran pengurus JQH-NU MWC Besuk, perwakilan ranting se-Kecamatan Besuk, para ustadz dan ustadzah pengampu TPQ, serta tokoh masyarakat setempat. Kehadiran mereka menjadi bukti komitmen bersama dalam memajukan pendidikan Al-Qur'an di tingkat akar rumput.
Acara dibuka secara resmi setelah pembacaan maulid Simthud Duror, suasana khidmat terasa ketika seluruh peserta melantunkan sholawat bersama, seolah menjadi pengantar spiritual sebelum masuk pada pembahasan program.
Dalam sambutan pembukaan, Mustasyar MWC NU Kecamatan Besuk, KH. Syamsul Huda menyampaikan tiga materi pokok yang menjadi pijakan moral dan arah gerak JQH-NU ke depan:
Pertama, Kedudukan Guru Ngaji Al-Qur'an.
Beliau menegaskan bahwa guru ngaji bukan profesi biasa, seraya menyampaikan kutipan Hadist yang menunjukkan bahwa keutamaan tertinggi akan diperoleh guru ngaji yang konsisten didalam belajar dan mengajarkan Al-Qur'an.
Kedua, Tugas dan Fungsi Guru Ngaji Al-Qur'an.
Selain mengajar tajwid, makharijul huruf, dan tartil, guru ngaji disebut memiliki fungsi sosial yang luas. "Guru ngaji adalah murabbi, pembina akhlak, dan perekat sosial. Di kampung, sering kali guru ngajilah yang menjadi rujukan pertama warga ketika ada persoalan agama dan moral," jelasnya.
Ketiga, Pentingnya Pendidikan Al-Qur'an bagi Generasi Bangsa.
Menutup arahannya, Mustasyar mengingatkan bahwa gempuran budaya digital dan individualisme mengancam identitas keislaman generasi muda. _"
"Jika anak-anak kita jauh dari Al-Qur'an, maka kita sedang kehilangan arah bangsa. Pendidikan Al-Qur'an bukan sekadar program, tapi kebutuhan mendesak untuk menjaga peradaban," tegasnya.
Memasuki sesi inti, Ketua PAC JQH-NU Besuk Ust. H. Nurullah Amali, M.Pd. memaparkan makna tema raker tahun ini.
"Merajut Nada" diartikan sebagai upaya sistematis untuk meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an melalui pelatihan tahsin, qiraah sab'ah, tartil dan tahfidz yang lebih masif. Hal ini menjadi pembahasan komisi A yg membidangi Tilawah, Qiro'atus Syab'ah dan Tahfidz.
"Mengikat Ukhuwah" menjadi fokus pada penguatan silaturahmi antar lembaga TPQ, pondok pesantren, dan para pengajar. Program yang berkaitan dengan hal tersebut dirancang oleh komisi B yang membidangi Pembinaan ponpes dan TPQ, Lembaga Ta'lif Wan Naser dan Pengembangan Penelitian dan Keorganisasian serta UKK.
"Menjaga Kalamullah" diterjemahkan dalam bentuk program yg dikembangkan oleh komisi C yang membidangi Tafsir, Koordinator Tartila dan Kaligrafi
Peserta kemudian dibagi ke dalam tiga komisi sesuai bidang tersebut. Diskusi berlangsung dinamis hingga larut malam. Setiap komisi memaparkan hasil rumusan program, target waktu, dan indikator keberhasilannya didalam sidang pleno.
Raker ditutup dengan pembacaan doa dan ikrar bersama untuk mengawal program yang telah disepakati.
Senanda dengan yang disampaikan ketua PAC JQH-NU Besuk, Ust. Ahmad Taufiq selaku ketua panitia RAKER berharap hasil raker tidak berhenti di atas kertas saja. "Ini amanah yang harus dilaksanakan, kalau kita serius merajut nada, mengikat ukhuwah, maka insyaAllah Kalamullah akan tetap terjaga di Kecamatan Besuk," pungkasnya.
Reporter: Fathul Mubin, S.Pd Editor: Admin PAC JQHNU Besuk